
Medan – Energi dan antusiasme delegasi Youth City Changers (YCC) 2026 semakin terlihat di hari kedua pada Senin (29/6/2026). Bertempat di Hotel Le Polonia, rangkaian acara YCC mendorong kreativitas para perwakilan pemuda dari berbagai kota yang hadir.
Keseruan hari itu dibuka dengan sesi “Kombur”, sebuah istilah lokal Medan yang berarti mengobrol — yang dikemas menjadi wadah bursa ide yang dinamis. Pada sesi Kombur 1, setiap perwakilan kota ditantang untuk mempresentasikan masalah beserta inovasi ketangguhan kota mereka dalam waktu 90 detik. Menariknya, banyak dari mereka yang turut membawa atribut seperti poster, hasil karya, hingga mengenakan baju kreasi unik yang mewakili inovasi dari kota asal mereka.
Suasana semakin cair dan interaktif saat peserta masuk ke sesi games bridging. Pada sesi kali ini, seluruh delegasi dilebur ke dalam enam kelompok dan diberi misi besar untuk membangun sebuah kota imajiner. Bekal mereka hanyalah sebuah peta dengan topografi beragam, kelengkapan atribut, hingga anggaran fiktif yang jumlahnya berbeda-beda untuk setiap tim.
Dalam simulasi ini, kemampuan kerja sama dan negosiasi peserta benar-benar diuji. Mereka harus memutar otak untuk merancang kota yang bukan sekadar layak huni, tetapi juga tangguh menghadapi berbagai skenario. Keseruan memuncak di akhir permainan ketika hasil kerja keras tiap kelompok diukur melalui pembagian bintang dan penghitungan pajak yang tercatat di rapor kota mereka.
Setelah itu, setiap kelompok kembali mendapatkan 2 kartu tantangan. Mulai dari bencana alam, bencana biologis, hingga bencana sosial dan pemotongan anggaran. Pada sesi tersebut, setiap kelompok harus menyusun strategi ulang dan penentuan sektor prioritas sesuai dengan kondisi wilayah pada peta yang diberikan.
Setelah puas bermain peran dan merancang kota di atas kertas, peserta diajak berpikir lebih reflektif pada sesi Kombur 2. Mereka diminta menengok kembali kondisi kota asalnya: Apakah kota kita benar-benar sudah tangguh?
Sesi ini membuka mata banyak pihak bahwa definisi “kota tangguh” ternyata sangat luas. Ketangguhan tidak hanya diukur saat terjadi bencana alam, tetapi juga mencakup resiliensi ekonomi, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), hingga ketahanan pangan. Sebuah kota baru bisa disebut tangguh jika mampu memetakan masalah, merencanakan solusi, mengeksekusi, hingga melakukan pengawasan di semua sektor tersebut.
Dari pertukaran pengetahuan di Kombur 1 dan 2, para delegasi YCC akhirnya menyadari satu benang merah yang penting. Permasalahan yang dihadapi satu kota sering kali serupa dengan apa yang dialami kota lainnya. Kesamaan ini melahirkan banyak pelajaran berharga (lessons learned) yang menyadarkan mereka bahwa inovasi hebat harus didukung oleh kerjasama yang kuat. Kolaborasi lintas wilayah menjadi kunci utama agar dapat mewujudkan transformasi pembangunan di masa depan yang berkelanjutan.
Artikel oleh:
