
Medan – Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) bersama Pemerintah Kota Medan memastikan seluruh persiapan penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI telah siap. Mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”, Rakernas akan menjadi forum strategis bagi para wali kota untuk memperkuat kolaborasi, merumuskan rekomendasi kebijakan, sekaligus berbagi praktik baik dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan perkotaan.
Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang menghadirkan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Direktur Eksekutif APEKSI Alwis, Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, dan Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menjelaskan bahwa rangkaian Rakernas telah dimulai sejak 28 Juni melalui kegiatan Youth City Changers (YCC) yang melibatkan generasi muda sebagai mitra pembangunan kota. Kedatangan para wali kota dijadwalkan pada 30 Juni dan akan disambut di Lapangan Merdeka Medan, bersamaan dengan penutupan kegiatan GEMES sebagai upaya memperkenalkan budaya Melayu kepada seluruh peserta.
Para wali kota juga berkenan mengikuti Upacara Hari Jadi Kota Medan, dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan Rapat Kerja seperti Mayor’s Talk, dilanjutkan dengan keynote speech Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq. Pada hari pertama ini juga dilakukan pembukaan Indonesia City Expo (ICE). Sebanyak 60 kota berpartisipasi dalam ICE dengan menghadirkan produk-produk unggulan UMKM daerah. Selain itu, masyarakat dapat mengunjungi bazar UMKM dan kuliner di Lapangan Benteng serta pameran dari BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran.
Menurut Rico, tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat” dipilih sebagai respons atas berbagai tantangan yang dihadapi kota-kota di Indonesia, mulai dari bencana alam, tekanan fiskal, hingga perubahan iklim.
“Kota tangguh adalah kota yang mampu bertahan dalam berbagai situasi. Bukan hanya memiliki mitigasi bencana yang baik, tetapi juga tangguh secara fiskal, mampu mengendalikan inflasi, menjaga lingkungan hidup, serta memiliki strategi pemulihan ketika menghadapi krisis,” ujarnya.
Selain sidang Rakernas, penyelenggaraan juga diramaikan dengan Ladies Program, city tour ke kawasan budaya Kota Medan, kunjungan ke Mal Pelayanan Publik dan Galeri Dekranasda, serta berbagai forum tematik yang mempertemukan perangkat daerah dari seluruh Indonesia.
Pada hari kedua, seluruh wali kota dijadwalkan mengikuti olahraga bersama, penanaman pohon, dan peresmian Tugu Kota Tangguh di Taman Cadika sebagai simbol komitmen bersama membangun kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Setelah itu, rangkaian sidang pleno Rakernas. Rakernas akan ditutup oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Malam harinya akan digelar Karnaval Budaya yang melibatkan sekitar 70 kota.
Sebanyak 88 wali kota, 4 wakil wali kota, 2 sekretaris daerah, dan 1 kepala Bappeda dipastikan hadir dalam Rakernas XVIII APEKSI mewakili 98 kota anggota APEKSI. Karnaval budaya diperkirakan melibatkan sekitar 2.800 peserta, sementara Indonesia City Expo dan bazar menghadirkan 375 pelaku UMKM. Pemerintah Kota Medan memperkirakan penyelenggaraan Rakernas akan mendorong perputaran ekonomi hingga sekitar Rp72 miliar.
Direktur Eksekutif APEKSI Alwis menegaskan bahwa Rakernas bukan sekadar agenda seremonial, melainkan forum strategis untuk memperkuat posisi pemerintah kota dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Menurutnya, di tengah keterbatasan fiskal daerah, dinamika geopolitik, dan kondisi ekonomi nasional, para kepala daerah membutuhkan ruang untuk bertukar pengalaman dan menyusun solusi bersama. Hasil Rakernas nantinya akan dirumuskan menjadi berbagai rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat melalui surat resmi maupun audiensi.
“Kota adalah pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, rekomendasi APEKSI lahir dari pengalaman nyata pemerintah kota dalam memberikan pelayanan publik, bukan semata-mata dari pendekatan administratif,” ujarnya.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menambahkan bahwa kota merupakan tolok ukur kemajuan bangsa. Melalui Rakernas, para wali kota akan menyampaikan berbagai rekomendasi agar kebijakan nasional semakin memperhatikan kebutuhan daerah.
Sementara itu, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menyoroti pentingnya penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam penanganan banjir, khususnya terkait pengelolaan sungai yang menjadi kewenangan balai. Menurutnya, persoalan banjir menjadi tantangan utama yang dihadapi banyak kota dan membutuhkan sinergi lintas pemerintahan.
Di sisi lain, Wali Kota Ternate Tauhid Soleman menilai Rakernas menjadi ruang penting bagi kota-kota untuk saling belajar. Ia mengapresiasi berbagai inovasi Kota Medan, termasuk digitalisasi layanan perpajakan Qresto yang dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah. Ia juga mendorong agar isu pengelolaan sampah di wilayah pesisir dan kepulauan mendapat perhatian lebih besar dalam rekomendasi Rakernas.
Selain sidang utama, Rakernas XVIII APEKSI turut menghadirkan sejumlah forum tematik, antara lain Forum Pangan, Forum Bappeda, Forum Lingkungan Hidup, Forum Bisnis, Forum Komunikasi dan Digital. Melalui forum-forum tersebut, pemerintah kota diharapkan dapat menyusun solusi konkret atas berbagai persoalan perkotaan sekaligus memperkuat kolaborasi antardaerah.
Rakernas XVIII APEKSI di Medan diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan kota di berbagai sektor, mulai dari fiskal, pelayanan publik, perubahan iklim, transformasi digital, hingga pembangunan ekonomi daerah. Semangat yang diusung adalah bahwa tidak ada kota yang dapat berkembang sendiri; kemajuan kota-kota Indonesia merupakan fondasi bagi kemajuan bangsa. (GS)
