Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Resmi Tutup Rakernas XVIII

Medan — Rangkaian persidangan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI resmi ditutup di Kota Medan, Kamis (2/7). Namun, berakhirnya forum ini tidak dimaknai sebagai akhir dari rangkaian pertemuan pemerintah kota, melainkan awal dari komitmen bersama untuk menerjemahkan berbagai rekomendasi menjadi kebijakan dan aksi nyata di daerah masing-masing.

 

Sejak dimulai melalui Youth City Changers (YCC), beragam forum tematik, diskusi antarkota, hingga sidang organisasi, Rakernas XVIII APEKSI menjadi ruang bagi para wali kota untuk bertukar pengalaman sekaligus menyusun agenda bersama menghadapi tantangan pembangunan perkotaan. Berbagai isu mengemuka, mulai dari penguatan kapasitas fiskal daerah, ketahanan pangan, transformasi digital, pengelolaan lingkungan hidup, investasi, mitigasi bencana, hingga penguatan tata kelola pemerintahan.

 

Semua pembahasan tersebut kemudian bermuara pada satu tujuan yang sama: memperkuat kapasitas kota agar semakin tangguh dalam menghadapi perubahan sekaligus mampu menjadi motor pembangunan nasional.

 

Rakernas Boleh Berakhir, Kolaborasi Tidak

Dalam sambutan penutupan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyampaikan apresiasi kepada seluruh wali kota, delegasi, pengurus APEKSI, panitia, Pemerintah Kota Medan, serta para pekerja dan pelaku industri kreatif yang telah menyukseskan penyelenggaraan Rakernas XVIII APEKSI.

 

Menurutnya, kehadiran pemerintah kota dari seluruh Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Medan, terlebih penyelenggaraan Rakernas berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Medan.

 

Lebih penting lagi, berbagai forum yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir berhasil menghimpun aspirasi, pengalaman, serta rekomendasi dari pemerintah kota mengenai berbagai persoalan yang dihadapi daerah. Mulai dari pelayanan publik, ketahanan pangan, mitigasi bencana, transformasi digital, hingga berbagai isu strategis lainnya, seluruhnya diharapkan menjadi bekal untuk memperkuat pembangunan kota di masa mendatang.

 

Suara Kota Menjadi Bagian dari Solusi Nasional

Bagi APEKSI, Rakernas tahun ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi organisasi, tetapi juga mempertegas posisi pemerintah kota sebagai mitra strategis pemerintah pusat.

 

Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa berbagai rekomendasi yang disusun bukan dimaksudkan sebagai daftar keluhan daerah. Sebaliknya, seluruh masukan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah kota dalam memastikan berbagai program strategis nasional dapat berjalan lebih efektif di lapangan.

 

Menurutnya, pemerintah kota mendukung penuh berbagai kebijakan nasional. Namun, sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat, pemerintah kota juga memiliki pengalaman lapangan yang penting untuk menjadi bahan penyempurnaan kebijakan.

 

Karena itu, berbagai rekomendasi yang dihasilkan Rakernas akan disampaikan kepada Presiden maupun kementerian terkait sebagai masukan yang disertai solusi, bukan sekadar kritik.

 

Semangat yang sama juga tercermin dalam berbagai praktik baik yang dibagikan selama Rakernas. Di tengah penyesuaian transfer ke daerah, pemerintah kota terus saling belajar mengenai strategi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), digitalisasi pelayanan, hingga inovasi tata kelola pemerintahan. Bagi APEKSI, kemampuan kota untuk saling berbagi pengalaman merupakan modal utama dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

 

Dalam kesempatan tersebut, Eri Cahyadi juga mengumumkan bahwa Kota Bandung akan menjadi tuan rumah Rakernas APEKSI berikutnya, sebagai estafet kolaborasi yang akan terus berlanjut dari satu kota ke kota lainnya.

 

Benang Merah Rakernas XVIII APEKSI

Jika ditarik menjadi satu kesimpulan, seluruh rangkaian Rakernas XVIII APEKSI memperlihatkan bahwa pemerintah kota menghadapi tantangan yang semakin beragam, tetapi memiliki kebutuhan yang sama: ruang untuk berkolaborasi.

 

Penguatan kapasitas fiskal daerah menjadi salah satu isu yang paling banyak dibahas, seiring penyesuaian kebijakan transfer ke daerah dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pelayanan publik. Di saat yang sama, kota-kota juga didorong mempercepat transformasi digital, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan perubahan iklim, memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta memperluas ruang partisipasi masyarakat, termasuk generasi muda.

 

Melalui forum-forum tematik, pemerintah kota tidak hanya berbagi tantangan, tetapi juga saling bertukar praktik baik yang telah terbukti berhasil diterapkan di berbagai daerah. Semangat inilah yang menjadi kekuatan utama APEKSI: menjadikan pengalaman satu kota sebagai pembelajaran bagi kota lainnya.

 

Ketangguhan Kota Menjadi Agenda Bersama

Menutup rangkaian Rakernas, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan apresiasi terhadap berbagai gagasan yang lahir dari forum APEKSI dan menyatakan kesiapan pemerintah untuk mencermati rekomendasi yang menjadi ruang lingkup koordinasi kementeriannya.

 

Dalam pidato kuncinya bertajuk “Membangun Kota Tangguh, Fondasi Bangsa Berdaulat”, AHY menekankan bahwa pembangunan kota perlu diarahkan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan keberlanjutan.

 

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus dipahami sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat konektivitas antarwilayah, mendukung ketahanan pangan dan energi, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

 

AHY juga mengingatkan bahwa urbanisasi, perubahan iklim, persoalan tata ruang, kemacetan, pengelolaan sampah, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat merupakan tantangan yang dihadapi hampir seluruh kota di Indonesia. Karena itu, kota masa depan perlu dibangun di atas fondasi ketahanan infrastruktur, ketahanan pangan, ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan lingkungan.

 

Pandangan tersebut memperkuat berbagai isu yang telah mengemuka sepanjang Rakernas, sekaligus menegaskan bahwa pembangunan kota membutuhkan sinergi yang erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

 

Melanjutkan Semangat dari Medan

Rakernas XVIII APEKSI memang telah resmi ditutup. Namun, forum ini meninggalkan lebih dari sekadar rangkaian sidang, diskusi, dan rekomendasi.

 

Rakernas memperlihatkan bahwa pemerintah kota memiliki kemampuan untuk saling belajar, berbagi inovasi, dan menyusun solusi bersama atas berbagai tantangan yang dihadapi daerah. Di tengah dinamika kebijakan dan keterbatasan fiskal, semangat kolaborasi antarkota tetap menjadi kekuatan utama dalam menjaga kualitas pelayanan publik dan mempercepat pembangunan.

 

Dari Medan, pemerintah kota membawa pulang lebih dari sekadar dokumen rekomendasi. Mereka membawa jejaring, pengalaman, praktik baik, dan komitmen untuk terus bekerja bersama.

 

Sebab pada akhirnya, sebagaimana semangat yang diusung sepanjang Rakernas XVIII APEKSI, kota yang tangguh tidak dibangun oleh satu daerah saja. Ia tumbuh ketika kota-kota saling menguatkan, saling belajar, dan bergerak bersama untuk mewujudkan bangsa yang berdaulat. (DM/GS)