YCC 2026: Refleksi Ketangguhan Kota Melalui Kacamata Pemimpin Daerah dan Pemuda

 

Medan – Semarak semangat kolaborasi kaum muda mewarnai Kota Medan pada Minggu (28/6/2026). Lewat ajang Youth City Changers (YCC) yang menjadi salah satu rangkaian rutin Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), para delegasi muda berkumpul untuk ambil bagian dalam merancang masa depan pembangunan kota.

 

Hari pertama YCC dibuka dengan sesi Inspiring Talk bertajuk “Pemuda Kota Tangguh”. Sesi ini berlangsung interaktif sejak menit pertama. Talkshow tersebut dibuka oleh satu pertanyaan, “Menurut kamu, seberapa tangguh kotamu?”, seluruh peserta serentak merespons dengan mengangkat kertas indikator berwarna merah, kuning, dan hijau untuk merefleksikan apakah kota mereka sudah cukup tangguh ataupun sebaliknya. Sementara itu, ketiga narasumber yakni Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya, Wali Kota Medan Rico Waas, dan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menjawab pertanyaan tersebut secara kuantitatif dalam skala 1 hingga 10.

 

Dalam diskusi tersebut, para pemimpin daerah merefleksikan ketangguhan kota melalui kacamata krisis, khususnya saat bencana alam melanda wilayah Sumatera. Wali Kota Medan, Rico Waas, membagikan pengalaman peliknya saat banjir memutus aliran listrik di berbagai wilayah, yang memicu tantangan besar pada sistem komunikasi darurat.

 

Sebagai langkah taktis, Pemerintah Kota Medan menerbitkan Surat Keputusan Biaya Tak Terduga (SK BTT) guna mempercepat penanggulangan bencana, merespons kejadian mendesak, dan menangani keadaan luar biasa. Rico menekankan bahwa kunci keberhasilan pemulihan yang dicapai hanya dalam waktu satu bulan adalah kolaborasi solid antara pemerintah, relawan, dan seluruh stakeholder terkait.

 

Di sisi lain, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyoroti bagaimana krisis justru menumbuhkan empati dan kepedulian lintas batas wilayah. Pasca-pemulihan kotanya, Banda Aceh langsung bergerak merangkul dan menyalurkan bantuan untuk kota serta kabupaten tetangga yang turut dihantam banjir bandang. Semangat gotong royong inilah yang menurutnya menjadi pondasi utama agar seluruh wilayah terdampak dapat pulih lebih cepat bersama-sama.

 

Melengkapi refleksi kedua kepala daerah tersebut, Wamendagri Bima Arya memberikan pandangan komprehensif. Menurutnya, bencana adalah parameter nyata untuk mengukur kesiapan, kecepatan pemulihan, hingga mengevaluasi penyebab krisis itu sendiri, apakah murni faktor alam atau imbas dari ulah manusia.

 

Lebih jauh, Bima Arya memaparkan lima aspek yang diuji secara langsung saat bencana terjadi. Pertama, sistem kota itu sendiri, karena bencana memicu efek domino yang organik, bukan insidental. Kedua, kebersamaan, dimana kerjasama pemerintah dengan berbagai pihak diuji untuk turun langsung ke lapangan dan berkolaborasi bersama rakyat. Ketiga, kepemimpinan yang memunculkan sosok pemimpin organik, dengan menumbuhkan kepedulian yang melampaui sekat formalitas birokrasi untuk membantu korban secara menyeluruh. Keempat, ujian komunikasi antar pemangku kepentingan. Kelima, akurasi data terkait jumlah masyarakat yang terdampak.

 

Lantas, di mana posisi orang muda dalam ekosistem ketangguhan ini? Forum ini menyepakati tiga peran vital pemuda: berkolaborasi dengan para ahli untuk mengkaji dan menganalisis kerentanan dan resiko yang mungkin terjadi, merencanakan langkah preventif yang sistematis, dan belajar dari krisis untuk mengambil keputusan yang lebih baik di masa mendatang.

 

Substansi berbobot dalam Inspiring Talk ini nyatanya berpadu manis dengan kreativitas para pesertanya. Sepanjang sesi, antusiasme delegasi YCC terpancar lewat kostum tematik “Kota Tangguh” yang mereka kenakan. Mulai dari seragam pemadam kebakaran, atribut BPBD, busana yang terinspirasi dari pahlawan lokal kota masing-masing, hingga kreasi unik nan kreatif seperti tongkat berhiaskan buah rambutan yang dibawa dengan bangga oleh delegasi asal Kota Binjai.

 

Pada akhirnya, kota yang tangguh tidak hanya dilihat dari infrastrukturnya yang megah, tetapi dari seberapa kuat warganya bertahan dan bangkit dari krisis. Sesi YCC kali ini menjadi pengingat kuat bahwa di tengah ancaman krisis yang semakin dinamis, anak muda bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan penggerak utama masa depan. Pemaparan dari para pemimpin daerah telah menyadarkan kita bahwa krisis adalah ujian yang melahirkan kepemimpinan organik, mengasah empati lintas wilayah, dan mendorong sistem untuk beradaptasi.

 

Melalui ruang diskusi yang inspiratif seperti YCC, anak muda diajak untuk tidak hanya bereaksi saat bencana datang, tetapi ikut merencanakan pencegahannya secara nyata. Dengan semangat gotong royong yang tergambar jelas dari antusiasme dan kreativitas setiap delegasi di Kota Medan, YCC mengukuhkan satu harapan besar di tangan anak muda yang tanggap, melek literasi bencana, dan berani bersuara, kota-kota di Indonesia akan selalu menemukan cara untuk bangkit, pulih, dan bertumbuh jauh lebih kuat dari sebelumnya.

 

Artikel oleh:

Roidah A. Showfah

APEKSInternship Batch 8