
Medan — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) resmi dibuka di Kota Medan, Rabu (1/7), menjadi penanda dimulainya forum tertinggi pemerintah kota untuk menyusun langkah bersama menghadapi tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks. Mengusung tema “Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat”, Rakernas tahun ini menempatkan kolaborasi, inovasi, dan penguatan kapasitas fiskal sebagai fondasi utama dalam membangun kota yang adaptif di tengah dinamika ekonomi, perubahan kebijakan nasional, hingga meningkatnya risiko bencana.
Pembukaan Rakernas dihadiri puluhan wali kota dari seluruh Indonesia, jajaran pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta berbagai mitra pembangunan. Selama beberapa hari ke depan, para peserta akan mengikuti beragam forum strategis yang membahas isu-isu perkotaan, mulai dari ketahanan pangan, transformasi digital, perencanaan pembangunan, investasi, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan generasi muda.
Dari Medan, Ajakan Mengubah Komitmen Menjadi Aksi
Mengawali rangkaian pembukaan, Wali Kota Medan Rico Waas menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi kota yang hadir di ibu kota Sumatera Utara. Ia menilai antusiasme peserta yang telah mengikuti berbagai agenda pra-Rakernas, termasuk Youth City Changers (YCC), mencerminkan besarnya semangat kolaborasi yang dimiliki pemerintah kota di seluruh Indonesia.
Namun, menurutnya, nilai terbesar Rakernas tidak terletak pada banyaknya forum yang terselenggara, melainkan pada implementasi hasil-hasil pembahasannya. Seluruh gagasan, rekomendasi, dan komitmen yang lahir selama Rakernas diharapkan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan inovasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut juga diwujudkan melalui peluncuran Qresto, sistem digitalisasi perpajakan yang dikembangkan Pemerintah Kota Medan bersama Bank Indonesia dan Bank Sumut. Melalui mekanisme split billing, pembayaran pajak restoran dilakukan secara otomatis dan transparan, sehingga penerimaan daerah dapat langsung masuk ke Rekening Kas Umum Daerah tanpa mengurangi hak pelaku usaha.
Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai salah satu contoh praktik baik yang dapat menjadi referensi bagi kota-kota lain dalam memperkuat pendapatan asli daerah (PAD) melalui transformasi digital.
APEKSI Perkuat Solidaritas dan Ruang Belajar Antarkota
Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa Rakernas bukan sekadar agenda organisasi tahunan, melainkan ruang bersama bagi pemerintah kota untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi daerah.
Di tengah penyesuaian transfer ke daerah, meningkatnya kebutuhan belanja pegawai, pengelolaan persampahan, hingga tuntutan memperkuat PAD, pemerintah kota dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan semangat berinovasi.
Karena itu, APEKSI terus memperkuat fungsi advokasinya kepada pemerintah pusat sekaligus membangun ekosistem pembelajaran antarkota. Berbagai forum dalam Rakernas dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik, mulai dari perencanaan pembangunan, transformasi digital, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal.
Menurutnya, setiap kota memiliki tantangan dan karakteristik yang berbeda sehingga tidak semua kebijakan dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama. Justru melalui APEKSI, berbagai pengalaman keberhasilan dari satu kota dapat menjadi inspirasi bagi kota lainnya.
Semangat saling berbagi tersebut, lanjutnya, menjadi kekuatan utama organisasi selama ini. Tidak ada kota yang merasa paling maju ataupun paling tertinggal karena setiap anggota memiliki pengalaman yang dapat dipelajari bersama.
Selain itu, APEKSI juga terus mendorong berbagai agenda strategis, seperti penguatan city branding, promosi inovasi daerah ke tingkat internasional, hingga advokasi terhadap berbagai regulasi yang berkaitan dengan pemerintahan daerah dan hubungan keuangan pusat-daerah.
Kolaborasi Pemerintah Daerah Tidak Berhenti di Tingkat Pusat
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyambut baik penyelenggaraan Rakernas XVIII APEKSI di Medan dan mengapresiasi peran APEKSI sebagai wadah penyampaian aspirasi pemerintah kota.
Menurutnya, berbagai rekomendasi yang selama ini dihasilkan APEKSI telah banyak berkontribusi dalam mendorong penyempurnaan kebijakan nasional. Namun, ia juga mengusulkan agar ruang kolaborasi diperluas dengan melibatkan pemerintah provinsi sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan daerah.
Ia mencontohkan sejumlah isu fiskal dan pengelolaan pendapatan daerah yang dapat dibahas bersama antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga menyatakan dukungan terhadap berbagai inovasi digital yang dikembangkan pemerintah kota, termasuk sistem auto split perpajakan yang dinilai mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penerimaan daerah.
Kepemimpinan Adaptif Menjadi Kunci Ketangguhan Kota
Dalam pidato kuncinya yang bertajuk “Optimalisasi Pengelolaan Keuangan Daerah di Tengah Kebijakan Efisiensi Anggaran”, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengajak seluruh kepala daerah melihat tantangan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas kepemimpinan.
Menurutnya, kepala daerah saat ini menghadapi sedikitnya empat tantangan besar, yakni dinamika geopolitik global, implementasi program prioritas nasional, pelaksanaan visi-misi kepala daerah, serta perubahan lanskap komunikasi publik yang dipengaruhi algoritma media sosial.
Di tengah penyempitan ruang fiskal, kemampuan setiap kepala daerah dalam merespons tantangan tersebut menjadi pembeda. Karena itu, peningkatan PAD tidak cukup dipahami sebagai persoalan teknologi semata, melainkan sebagai bagian dari reformasi pendapatan daerah yang membutuhkan kepemimpinan, inovasi, dan keberanian mengambil keputusan.
Ia mengapresiasi berbagai praktik baik yang telah lahir di kota-kota anggota APEKSI, mulai dari digitalisasi pembayaran, inovasi pelayanan publik, hingga strategi peningkatan PAD yang terbukti menghasilkan lompatan signifikan di sejumlah daerah.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh kondisi awal daerah, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan dan kemampuan menghadirkan perubahan.
Selain penguatan fiskal, Bima Arya juga menekankan pentingnya membangun identitas kota (city branding) yang kuat sebagai strategi meningkatkan daya saing daerah. Kota yang mampu mengangkat karakter, sejarah, dan cita-cita masa depannya secara konsisten akan lebih mudah menarik investasi, wisatawan, maupun berbagai peluang ekonomi lainnya.
Ia turut mengapresiasi perkembangan program Youth City Changers (YCC) yang dinilai berhasil membuka ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan perkotaan. Menurutnya, orang muda bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi telah menjadi bagian dari kepemimpinan masa kini yang perlu dilibatkan dalam merancang masa depan kota.
Menutup pidatonya, Wakil Menteri Dalam Negeri mengingatkan bahwa tantangan pembangunan tidak dapat dihadapi secara individual. Budaya kolaborasi, saling belajar, dan semangat persaudaraan yang selama ini menjadi karakter APEKSI merupakan modal sosial yang harus terus dijaga.
Rakernas sebagai Ruang Merumuskan Solusi Bersama
Pembukaan Rakernas XVIII APEKSI memperlihatkan benang merah yang sama dari seluruh pembicara. Ketangguhan kota tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas fiskal atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah daerah membangun kolaborasi, memperkuat inovasi, serta saling belajar menghadapi tantangan yang terus berkembang.
Melalui berbagai forum yang berlangsung selama Rakernas, pemerintah kota diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya memotret persoalan, tetapi juga menawarkan solusi yang lahir dari pengalaman nyata daerah. Dengan semangat kebersamaan tersebut, APEKSI kembali menegaskan perannya sebagai rumah kolaborasi pemerintah kota untuk memperkuat kapasitas daerah sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (GS)
