Menyelami Gelombang Kreatif Global di WCCE 2026: Dari Jakarta untuk Kota-Kota Berkelanjutan

 

Bagi tim magang APEKSI, penugasan kantor untuk menghadiri The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta menjadi ruang belajar strategis yang berharga. Konferensi berskala internasional ini bukan sekadar panggung pertemuan delegasi dunia, melainkan ruang diskursus nyata yang mempertemukan diplomasi kebijakan publik, narasi inovasi, dan visi pembangunan kota masa depan. Berdiri di antara para praktisi global mempertegas kesadaran bahwa manajemen reputasi serta daya saing daerah di Indonesia sangat bergantung pada kesiapan kota dalam menumbuhkan ekosistem kreatif warganya.

 

Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, forum ini menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang inklusif. Urgensi tersebut ditekankan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam sambutannya, yang menegaskan bahwa ekonomi kreatif kini bukan lagi industri pelengkap, melainkan motor transformasi ekonomi yang bertumpu pada talenta manusia dan identitas lokal. Semangat ini turut melahirkan Jakarta Vision on Creative Economy, dokumen konsensus global inisiasi Indonesia untuk PBB guna memperjuangkan masa depan pekerja kreatif, royalti intelektual, serta pemanfaatan teknologi yang tetap beretika.

 

Diskusi multilateral kian tajam berkat perspektif para delegasi internasional. Paparan Mr. Felipe dari Kolombia membuktikan keberhasilan konsep orange economy dalam revitalisasi kawasan urban dan memberdayakan komunitas akar rumput. Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fiji mengingatkan krusialnya diplomasi budaya berbasis kearifan lokal untuk menjaga identitas daerah di tengah disrupsi digital. Dialog ini memperlihatkan bahwa daya tarik utama suatu wilayah di mata dunia justru berakar pada orisinalitas kultural serta kekuatan komunitasnya, bukan semata kemegahan infrastruktur fisik.

 

Pengalaman berlanjut saat menyusuri pameran Creativillage di SCBD. Menyaksikan deretan fesyen sirkular, kriya bernilai ekspor, hingga teknologi interaktif karya anak bangsa seketika mengaitkan ingatan saya pada potensi luar biasa kota-kota anggota APEKSI. Menutup liputan ini, saya menyadari peran vital APEKSI dalam merangkai kolaborasi antardaerah (city-to-city collaboration) agar potensi kreatif tidak tersentralisasi di kota besar saja. Setiap rilis, advokasi, dan program kemitraan yang kami kawal dari meja magang adalah langkah nyata untuk memastikan talenta dari seluruh pelosok kota Indonesia mampu bersuara lantang di panggung global.

 

Alexis Abrielle Vivente Tibet Sadipun
APEKSInternship Batch 9