Clean Up Speak Up

 

 

Ruang kota bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang hidup yang perlu dirawat bersama. Semangat inilah yang menjadi dasar kegiatan “Clean Up Speak Up”, sebuah inisiatif kolaboratif APEKSI Muda yang mengajak anak muda melihat kembali hubungan antara pariwisata, lingkungan, sejarah, dan kehidupan masyarakat perkotaan. Mengusung tema Keberlanjutan Wisata dan Lingkungan, kegiatan ini memadukan walking tour dan plogging sebagai cara yang edukatif, menyenangkan, inklusif, sekaligus mendorong aksi nyata.
 
Diinisiasi oleh Tim Internship APEKSI Batch 7, kegiatan berlangsung di dua kawasan bersejarah Jakarta, yakni Kota Tua dan Chinatown Glodok. Sebanyak 30 peserta eksternal dari wilayah Jabodetabek turut ambil bagian dalam kegiatan yang didukung oleh Direktorat APEKSI, UPK Kota Tua, dan Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui kehadiran Plt. Asisten I Jakarta Barat, Imron Syahrin. Pemilihan Kota Tua dan Chinatown Glodok bukan tanpa alasan. Kedua kawasan tersebut merepresentasikan kekayaan sejarah, budaya, aktivitas ekonomi, kuliner, serta interaksi sosial yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan Kota Jakarta.

 

Wisata Jakarta Tumbuh, Tantangan Keberlanjutan Mengemuka

 

Pertumbuhan aktivitas wisata di Jakarta menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat untuk menikmati ruang-ruang kota. Kawasan bersejarah, ruang publik, pusat kuliner, hingga destinasi berbasis budaya semakin menjadi pilihan masyarakat untuk berekreasi sekaligus mengenal lebih dekat karakter sebuah kota.

 

Pertumbuhan tersebut tentu menghadirkan peluang. Bagi pemerintah kota, perkembangan pariwisata dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan kawasan. Sementara bagi masyarakat, meningkatnya aktivitas wisata dapat membuka ruang interaksi dan memperkenalkan potensi lokal kepada pengunjung yang lebih luas.

 

Namun, pertumbuhan pariwisata juga perlu diikuti dengan perhatian terhadap aspek keberlanjutan. Peningkatan jumlah pengunjung dapat menimbulkan berbagai tantangan, mulai dari sampah, kepadatan kawasan, tekanan terhadap ruang publik, penggunaan kendaraan pribadi, hingga risiko overtourism apabila tidak dikelola dengan baik.

 

Karena itu, keberlanjutan wisata tidak cukup hanya berbicara tentang peningkatan jumlah kunjungan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan kawasan wisata tetap nyaman bagi pengunjung, layak bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, mendukung ekonomi lokal, serta mampu menjaga lingkungan dan warisan budaya untuk generasi berikutnya.

 

Aksesibilitas Menjadi Kunci Wisata Kota

 

Salah satu aspek penting dalam membangun wisata perkotaan yang berkelanjutan adalah aksesibilitas dan konektivitas. Ketersediaan transportasi publik seperti KRL dan Transjakarta memberikan alternatif mobilitas bagi masyarakat untuk mencapai berbagai destinasi tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.

 

Pengembangan kawasan dengan pendekatan Transit Oriented Development (TOD) juga membuka peluang untuk menciptakan pola perjalanan yang lebih ramah pejalan kaki. Konsep tersebut relevan dengan pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, ekonomi kreatif, dan ruang publik.

 

Melalui pendekatan tersebut, perjalanan wisata dapat menjadi lebih dari sekadar berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Wisatawan dapat berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, mengenal sejarah kawasan, sekaligus berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

 

Menjelajah Kota dengan Konsep Slow Tourism

 

Rangkaian Clean Up Speak Up diawali dengan walking tour yang dipandu oleh Jakarta Good Guide. Peserta diajak menjelajahi Kota Tua dan Chinatown Glodok dengan pendekatan slow tourism, yaitu menikmati perjalanan secara lebih perlahan, sadar, dan mendalam.

 

Dalam perjalanan tersebut, peserta tidak hanya diajak melihat bangunan dan landmark bersejarah, tetapi juga memahami cerita di balik kawasan. Sejarah bangunan kolonial, keberagaman budaya, kuliner khas, hingga dinamika kehidupan ekonomi masyarakat menjadi bagian dari pengalaman.

 

Peserta juga diajak mengenal dan menikmati kuliner lokal sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap UMKM. Dengan demikian, aktivitas wisata diharapkan tidak berhenti pada pengalaman pengunjung, tetapi turut memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem kawasan.

 

Pendekatan slow tourism juga mengajak peserta untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar. Setiap langkah menjadi kesempatan untuk belajar mengenai bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan dipelihara oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.

 

Dari Walking Menjadi Aksi: Plogging untuk Lingkungan

 

Selain menjelajahi kawasan, peserta melakukan plogging, yaitu aktivitas berjalan atau berlari santai sambil memungut sampah yang ditemukan sepanjang rute perjalanan.

 

Plogging dipilih sebagai bagian dari kegiatan karena menghadirkan aksi sederhana yang dapat dilakukan siapa saja. Aktivitas ini mengubah kegiatan wisata menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi langsung terhadap kebersihan ruang kota.

 

Sepanjang kegiatan, peserta berhasil mengumpulkan sekitar 660 liter sampah. Jumlah tersebut menjadi gambaran sekaligus pengingat bahwa persoalan sampah di ruang publik merupakan tanggung jawab bersama. Sampah yang terkumpul juga menjadi bahan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah serta upaya mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya.

 

Lebih dari sekadar membersihkan kawasan, plogging menjadi media untuk membangun kesadaran bahwa perilaku individu memiliki dampak terhadap kualitas lingkungan perkotaan. Kebiasaan sederhana seperti membawa kembali sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan transportasi publik, dan menjaga fasilitas umum dapat menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan yang lebih berkelanjutan.

 

Anak Muda sebagai Penggerak Perubahan Kota

 

Clean Up Speak Up juga membawa pesan penting mengenai posisi anak muda dalam pembangunan kota. Generasi muda bukan hanya kelompok yang menikmati berbagai fasilitas dan ruang publik, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak perubahan.

 

Melalui kegiatan ini, APEKSI Muda mendorong anak muda untuk memiliki perspektif yang lebih luas terhadap kota. Wisata tidak hanya dipahami sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang mempertemukan masyarakat, budaya, ekonomi lokal, lingkungan, dan kebijakan perkotaan.

 

Anak muda memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan praktik sederhana yang dapat direplikasi di berbagai kota. Semangat “Clean Up” merepresentasikan aksi nyata merawat lingkungan, sementara “Speak Up” menjadi ajakan untuk berani menyampaikan gagasan, keresahan, dan solusi bagi masa depan kota.

 

Membangun Wisata yang Dinikmati dan Dirawat Bersama

 

Pada akhirnya, keberlanjutan wisata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah kota memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan infrastruktur yang mendukung. Pengelola destinasi bertanggung jawab menjaga kualitas kawasan dan pelayanan. Pelaku usaha serta UMKM menjadi bagian penting dalam menggerakkan ekonomi lokal. Sementara masyarakat dan pengunjung memiliki peran dalam menjaga kebersihan, ketertiban, serta keberlangsungan ruang yang mereka gunakan.

 

APEKSI Muda melalui Clean Up Speak Up ingin menunjukkan bahwa gerakan menuju kota berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Perubahan dapat dimulai dari aktivitas sederhana: berjalan kaki, mengenal sejarah kota, membeli produk lokal, menggunakan transportasi publik, memungut sampah, dan berani menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

 

Kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki destinasi menarik, tetapi juga kota yang mampu menjaga lingkungan, merawat warisan budaya, memberikan ruang bagi masyarakat, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan bersama. Clean Up Speak Up menjadi pengingat bahwa kota bukan sekadar tempat untuk dikunjungi—kota adalah ruang bersama yang perlu kita kenal, kita nikmati, dan kita rawat bersama.