
“Kalau kalian punya ide, jangan sampai berhenti pada ide, tapi dipraktikkan. Gagal tidak apa-apa, yang penting kalian mencoba.”
Kalimat ini disampaikan oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, saat menyapa anak-anak muda yang sedang berkegiatan di Cafe Tepi Sungai dalam acara Cerita Kota Cerita Kita (CKCK). Kalimat tersebut menjadi pesan penting bagi warga muda tentang pentingnya aksi nyata.
Pada 15 Oktober 2026, APEKSI Muda hadir di Kota Singkawang melalui kegiatan CKCK yang merupakan bagian dari acara Rembuk Kebudayaan Kota Kita hasil kolaborasi dengan Pemerintah Kota Singkawang. Kegiatan ini merupakan ruang bagi anak muda untuk berdiskusi dan berbagi ide serta gagasan tentang isu perkotaan yang dikemas secara interaktif melalui diskusi kartu permainan. Kartu tersebut merupakan alat pemantik ide tentang bagaimana generasi muda menanggapi persoalan kota dari pengalaman sehari-hari dan ikut berkontribusi menciptakan kota yang lebih baik. Kegiatan dihadiri oleh 100 orang yang merupakan kombinasi pemuda lokal Singkawang dan Pontianak.
Kegiatan dimulai pada pukul 13.30 dengan masing-masing memberikan 1 kata yang menggambarkan kotanya. Setelah itu, peserta dikelompokkan menjadi 8 kelompok dan masing-masing diberikan 1 deck kartu CKCK, yang masing-masing mengambil kartu dan menjawab pertanyaan yang ada di kartunya. Selama sesi berbagi, Wali Kota Singkawang beserta jajarannya hadir untuk menyapa para pemuda dan ikut berdiskusi dengan para peserta. Tidak hanya berdiskusi, Ibu Tjhai Chui Mie juga ingin mendengarkan dari beberapa peserta apa saja yang sudah mereka kerjakan baik di level individu maupun komunitas. Berbagai macam latar belakang dan gerakan yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa generasi muda dengan energi dan ide yang mereka miliki punya kontribusi penting untuk kemajuan kotanya.
Setelah rangkaian kegiatan CKCK selesai, acara dilanjutkan dengan walking tour untuk menceritakan tempat-tempat ikonik Singkawang beserta sejarahnya, seperti rumah Marga Tjhia, Tugu Taman Toleransi, Mess Daerah, Masjid Raya Singkawang, dan berakhir di Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Kegiatan ini sekaligus memperkuat narasi dan menjadi bukti nyata Kota Singkawang sebagai kota toleransi bahwa toleransi tidak hanya berakhir di gelar, tetapi juga hidup dalam kehidupan masyarakat dan saling hidup berdampingan.
Fikri Ajani Sasangkajati
APEKSInternship Batch 9
