
Warga Semarang kembali antusias menyambut bulan suci ramadhan dengan mengikuti Dugderan, tradisi luhur khas kota semarang yang menjadi perayaan kebanggaan bagi seluruh warganya. Diselenggarakan pada 16-17 Februari 2026, Dugderan tahun ini mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi” yang mencerminkan harmonisasi kota semarang dalam merangkul seluruh warga nya tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Tradisi Dugderan telah bermula di Kota Semarang sejak 1881 yang lahir sebagai solusi dari perbedaan penetapan awal ramadhan di tengah masyarakat.
Semangat toleransi dalam Perayaan Dugderan digambarkan oleh ikon Warak Ngendog, makhluk mitologi khas kota semarang yang diarak saat perayaan ini. Warak Ngendog terdiri dari Kepala Naga (Tionghoa), Badan Buraq (Arab) dan Kaki Kambing (Jawa) yang melambangkan akulturasi masyarakat semarang. Warak sendiri diadaptasi dari bahasa arab, yang berarti suci dan Ngendog dari bahasa jawa yang berarti bertelur. Harapannya, masyarakat semarang mampu menjaga kesucian di Bulan Ramadhan sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
Rangkaian acara dugderan terdiri dari kirab budaya yang menampilkan tradisi kesenian lokal, pemukulan bedug, hingga pembagian gunungan kue ganjel rel yang diperebutkan warga. Selain itu, perayaan ini turut dimanfaatkan sebagai momentum penggerak perekonomian warga. Banyak UMKM yang turut andil karena ramainya pengunjung yang membuat dagangan mereka laris manis.
Dengan adanya perayaan ini, Kota Semarang tidak hanya mempertahankan tradisi luhur, namun juga menggerakkan perekonomian dan nafas toleransi untuk mewujudkan masyarakat yang rukun beragama.
Roidah A’isyi Shofwah
APEKSInternship Batch 8
19 Februari 2026
