
Bila ingin menurut daftar menu dalam kamus kuliner hidupku, mungkin kalian hanya perlu waktu setara seduhan satu gelas kopi; sangat singkat. Tidak banyak jenis makanan berat yang sudah lidahku cicip dan coba. Pun dengan ragam camilan di dunia, yang pernah kumakan belum ada seperseratusnya.
Salahkan pada selera makanku yang tidak terlalu variatif. Aku sering takut untuk keluar dari zona nyaman lidahku, takut untuk mencicipi rasa dan tekstur makanan baru. Karena itu jugalah repetisi sudah menjadi teman baikku sejak lama. Aku bisa makan satu menu puluhan kali sebulan dan tidak pernah bosan, atau mungkin itu cuma alasanku karena takut tidak cocok dengan suatu makanan. Sepertinya, satu dua dari kalian juga melakukan yang sama, bukan?
Namun, pada suatu hari di bulan Juni, aku membawa lidahku keluar dari zona aman tanpa persiapan. Dalam hidupku yang sangat kosong kala itu, rasa bosan hampir merasuk ke setengah badan. Saat itu aku tinggal di lingkungan yang kukenal hingga tiap keloknya, teman yang kukenal sejak sebelum SMA, kegiatan yang itu-itu saja, dan rentetan penolakan dari beberapa tempat yang aku incar untuk kerja. Rasanya aku memulai hari dengan putus asa dan tidur memeluk bosan. Jadi kupikir, mungkin aku butuh melihat dan merasakan hal baru agar bisa merasa antusias lagi saat membuka mata.
Oleh karena itu, ketika seorang kenalan menawarkan tiket cuma-cuma untuk acara Makan Tengah menu khas Sulawesi—makanan yang belum sekalipun menyentuh lidahku—aku langsung menawarkan diri tanpa pikir dua kali. Rasa takut memang ada, aku takut tidak selera makan dan tidak sanggup menghabiskan. Oh, bagaimana jika aku tidak selera dengan bau atau teksturnya? bukankah akan sangat tidak sopan kalau aku buang-buang makanan gratis yang sudah disajikan? Tapi rasa takutku kalah dengan keinginan untuk bergerak. Aku tidak mau hidup begini-begini saja dan bosan setengah mati, jadi malam itu aku menancap gas dan berkendara ke sisi selatan Kota Jogja untuk menyantap makanan asing dari Indonesia bagian Timur.
Itulah hariku mendapatkan suapan pertama dari Sultra, Sulawesi Tenggara
Tangan emas yang memegang wajan dan spatula kali itu adalah La Ode, lelaki yang pernah menjajaki salah satu kompetisi masak paling bergengsi di Indonesia; Masterchef Indonesia season 8 dan berhasil sampai ke lingkaran 10 besar. Dalam kurun waktu sekitar 2 jam, La Ode menyajikan serangkai hidangan khas Sulawesi yang telah ia persiapkan seharian. Makan Tengah kali ini dibuka dengan Sanggara Peppe, pisang “geprek” goreng asal Kota Makassar yang ditemani cocolan sambal gurih minyak kelapa. Perkawinan pisang kepok setengah matang yang belum mengeluarkan rasa gula dan sambal gurih sedikit pedas ala La Ode ini jadi kombinasi pembuka yang menggugah selera. Fakta menarik, minyak kelapa yang dipakai untuk menu ini La Ode buat khusus dengan menyangrai parutan buah kelapa yang ia petik dari pohon di hari yang sama. Fakta tidak penting, ini pertama kalinya aku makan pisang dengan sambal. Rasa enaknya ternyata sangat diluar nalar, sampai timbul rasa ingin menyantapnya langsung di tanah Sulawesi sana.
Hidangan utama datang dari laut dan darat, bertemu di racikan bumbu pesisir laut ala Sulawesi Tenggara. Malam itu, La Ode menyajikan Kenta Parende atau ikan kuah kuning dari Kabupaten Buton dan Ayam Tawaoloho atau sup ayam daun kedondong khas Kota Kendari. Semua sajian sangat nikmat, terimakasih kepada tangan yang diberkati miliki La Ode. Namun, yang menjadi pusat atensiku adalah perbedaan bumbu; begitu jauhnya perbedaan citarasa makanan antar pulau. Masakan Jawa yang sering kumakan selalu sarat dengan rempah berbagai rupa, apalagi masakan Sumatera yang terkenal tidak pernah pelit bumbu. Bintang utama dalam masakan Sulawesi Tenggara malam itu bukanlah rempah, namun bahan utamanya; daging ikan dan ayam. Berdasarkan keterangan La Ode, masakan Sulawesi Tenggara khususnya daerah dekat pantai memang minim bumbu. Resep ini hadir dari kebiasaan memasak ikan segar langsung setelah ditangkap, sehingga bumbu-bumbu yang dipakai tidak terlalu banyak karena gurih dari laut masih terbawa hingga ke piring sajian. Pikirku, mungkin menyantap Kenta Parende sambil duduk di tepian Pantai Bahari atau Pantai Katembe di Buton akan membuat rasanya ribuan kali lebih nikmat.
Makan Tengah kemudian dilanjut dengan makanan penutup dan minuman manis; Barongko dan Sunudamere. Barongko sendiri datang dari singkatan “barangku mua udoko” atau barangku sendiri yang kubungkus. Dalam camilan khas Kota Makassar ini, pisang yang dicampur dengan santan dan telur akan dikukus dalam bungkusan daun pisang, menggambarkan buah pisang yang dibungkus dengan bagian pohon pisang lainnya. Konsepnya seperti nagasari, camilan tradisional yang sudah berkali-kali ku makan sejak kecil. Namun dalam resep Barongko, teksturnya lebih unik dengan pisang yang sepenuhnya hancur. Manis dan empuk.
Malam itu, aku melahap habis semua sajian yang dihidangkan di atas meja sembari mendengarkan cerita menarik dari perjalanan masak La Ode ke berbagai daerah di Indonesia. Aku juga sempat berkenalan dengan orang-orang asing yang ikut menyantap bersama dan bertemu dengan orang yang tidak kuduga. Dengan perut kenyang, aku menyadari bahwa dunia terlalu luas untuk hanya diam ditempat dan merasa bosan. Ada banyak orang baru, cerita baru, dan berbagai makanan yang menunggu untuk aku cicipi di kota, pulau, bahkan negara lainnya. Yang harus aku lakukan adalah selalu mencari cara untuk bergerak dan mencoba, seperti malam itu saat aku memutuskan untuk melawan rasa takut akan hal asing dan bergerak untuk merasakan suapan pertamaku dari Sultra.
Dalam perjalanan pulang, aku mengucap harapan sederhana; kesempatan hidup di bagian bumi lain agar bisa merasakan hidangan tidak familiar lainnya. Dan tanpa aku sadari, Tuhan “memasang telinga” dan mengabulkan harapanku beberapa bulan setelahnya.
Artikel oleh:
Rahmatia Zafarani
#APEKSInternship Batch 7
