
Pernahkah kita merasa sumpek dengan macetnya jalanan, udara yang makin panas, atau was-was setiap kali hujan deras mengguyur kota? Masalah-masalah khas keseharian inilah yang membuat The Urban and Sustainable Cities Thematic Forum pada 26-27 Agustus 2026 lalu terasa begitu relevan dan dekat dengan kita. Digelar di SMESCO Convention Hall, Jakarta, sebagai bagian dari Indonesia Sustainability 360 Forum, acara ini jauh dari kesan kaku. Di sinilah berbagai pihak duduk bersama mencari solusi nyata agar kota-kota tempat kita mencari nafkah bisa tumbuh menjadi ruang yang ramah lingkungan, tangguh menghadapi krisis iklim, dan yang terpenting: kembali nyaman untuk ditinggali oleh warganya.
Di tengah hangatnya diskusi, ada satu momen yang membawa secercah harapan baru, yakni peluncuran Sustainable Urban Development Insight Report 2026. Disusun lewat kolaborasi erat bersama SURBAND ID dan IAP Indonesia, laporan ini ibarat sebuah kompas atau buku resep bagi siapa saja yang ingin menata kota masa depan. Bukan sekadar deretan teori rumit atau angka-angka statistik, dokumen ini menawarkan solusi yang sangat membumi. Harapannya, para perencana tata ruang dan pembuat kebijakan punya panduan yang jelas untuk menyulap infrastruktur yang tadinya kaku dan berpolusi menjadi ruang-ruang interaksi yang hangat, rendah karbon, dan penuh kehidupan.
Tentu saja, rencana sebaik apa pun butuh manusia-manusia berdedikasi untuk mewujudkannya. Forum ini terasa semakin hidup lewat percakapan tokoh-tokoh yang sudah sangat memahami denyut nadi perkotaan kita (26/8). Mulai dari pakar seperti Bambang Susantono (Dekan Cities and Local Government Institute Asia Pacific) dan Alwis Rustam (Direktur Eksekutif APEKSI), hingga suara dari kacamata komunitas dan inovator seperti Elisa Sutanudjaja (Rujak Center for Urban Studies), Purnomo Dwi Sasongko (iKUPI), serta Robin Renardi Yovianto (CEO AMODA). Menyimak mereka bertukar pikiran mengingatkan kita pada satu hal mendasar: menyembuhkan kota yang sedang “sakit” karena urbanisasi tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah. Butuh kepedulian dan gotong royong kita semua untuk membangun kota yang benar-benar memanusiakan manusianya.
