
Perayaan hari jadi kota di Indonesia tidak hanya diwarnai seremoni formal, tetapi juga dirayakan melalui tradisi-tradisi lokal yang sarat makna. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan representasi sejarah, identitas, hingga nilai sosial masyarakat setempat. Setiap kota menghadirkan cara unik dalam merayakan hari jadinya, mulai dari ritual sakral hingga festival partisipatif yang melibatkan warga secara luas.
- Larung Sesaji, Kediri

Di wilayah pesisir seperti Kediri, tradisi Larung Sesaji dilakukan dengan menghanyutkan kepala lembu dan bebek ke Sungai Brantas. Kepala lembu yang dilarung melambangkan kejayaan masa lalu, sementara prosesi labuh bumi menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat Kediri atas hasil bumi yang melimpah. Dalam rangkaian tradisi ini, terdapat tiga gundukan atau tumpeng robyong yang berisi aneka hasil bumi seperti umbi-umbian (polo pendem), buah-buahan, sayur-sayuran, serta nasi kuning. Seluruh sajian tersebut ditata dalam tampah dan pada akhirnya diperebutkan oleh masyarakat yang hadir sebagai simbol keberkahan.
- Festival Erau, Tenggarong

Di Tenggarong, Festival Erau merupakan salah satu festival adat tertua di Indonesia. Festival ini berasal dari tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara dan memiliki rangkaian ritual yang kompleks, seperti upacara adat, tarian tradisional, hingga prosesi “belimbur” (saling siram air antar masyarakat). Prosesi awal Belimbur diawali dengan penurunan “Naga” (Ngulur Naga) ke Sungai Mahakam. Setelah itu, masyarakat saling menyiram air sebagai bagian dari ritual. Dahulu, air yang digunakan bebas dari sumber manapun, namun kini dalam Festival Erau telah diatur agar menggunakan air bersih. Hal ini sejalan dengan makna Belimbur sebagai simbol penyucian diri dari pengaruh buruk serta pembaruan semangat untuk membangun daerah. Selain itu, Erau juga menghadirkan partisipasi internasional melalui kegiatan budaya lintas negara. Upacara Erau sendiri awalnya diselenggarakan dua tahun sekali untuk memperingati hari jadi Tenggarong sejak 29 September 1782. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi festival budaya tahunan yang terbuka dan meriah.
- Babad Cirebon, Cirebon

Source: Tribunnews.com (https://jabar.tribunnews.com/2022/07/30/tradisi-pembacaan-babad-cirebon-tahun-ini-jadi-penawar-rindu-masyarakat-2-tahun-terganggu-covid) Selanjutnya di Cirebon, tradisi Pembacaan Babad Cirebon menjadi cara unik dalam memperingati hari jadi kota. Naskah babad yang berisi sejarah berdirinya Cirebon dibacakan secara langsung dalam suasana khidmat. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh tokoh adat atau budayawan, dengan bahasa dan intonasi khas. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana edukasi sejarah sekaligus penguatan identitas lokal, terutama bagi generasi muda yang jarang terpapar cerita lisan.
- Festival Rujak Uleg, Surabaya

Disisi lain, Kota Surabaya menghadirkan suasana yang lebih meriah dan partisipatif melalui Festival Rujak Uleg. Ribuan warga berkumpul untuk mengulek rujak secara bersama-sama menggunakan cobek besar. Kegiatan ini tidak hanya menonjolkan kuliner khas, tetapi juga nilai gotong royong dan kebersamaan. Biasanya festival ini juga diiringi dengan lomba, pertunjukan seni, dan parade budaya, sehingga menciptakan atmosfer perayaan yang inklusif.
- Santiago & Pekande-kandea, Baubau

Di kawasan timur Indonesia, tepatnya di Baubau, tradisi Ritual Santiago & Pekande-kandea menjadi bagian dari perayaan daerah. Ritual Santiago berkaitan dengan pengaruh sejarah dan kepercayaan lokal, sementara Pekande-kandea merupakan tradisi makan bersama dalam jumlah besar sebagai simbol persatuan. Pekande-kandea bermakna menyuapi tamu atau pengunjung sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan dan syukur atas anugerah Allah SWT. Tradisi ini juga menjadi ruang silaturahmi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, tiap kecamatan, desa, kelurahan, hingga instansi pemerintahan membawa talang berisi hidangan tradisional untuk disajikan dan dinikmati bersama dalam suasana kebersamaan.
- Kayuh Baimbai di Sungai Martapura, Banjarmasin

Sementara itu, di Banjarmasin, tradisi Kayuh Baimbai di Sungai Martapura menjadi simbol kuat identitas kota sebagai kota sungai. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari komunitas, pelajar, hingga instansi pemerintah, yang bersama-sama menyusuri sungai menggunakan perahu. Selama kegiatan berlangsung, peserta melakukan aksi bersih-bersih dengan mengumpulkan sampah di sepanjang aliran sungai. Selain itu, sering pula disertai edukasi lingkungan dan kampanye kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai. Tidak hanya sebagai bagian dari perayaan hari jadi kota, Kayuh Baimbai juga menjadi gerakan kolektif yang menegaskan peran Sungai Martapura sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Banjarmasin.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa perayaan hari jadi kota di Indonesia memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar seremoni tahunan. Tradisi menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif, memperkuat identitas, serta membangun kebersamaan masyarakat. Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi ini di tengah modernisasi. Dengan inovasi yang tepat tanpa menghilangkan esensi budaya, perayaan hari jadi kota dapat terus menjadi medium strategis dalam memperkuat identitas lokal sekaligus mendorong daya tarik pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kayla Ariyanti N
APEKSInternship Batch 8

