
Jakarta dan segala kemacetannya menjadi satu bagian yang tidak pernah terpisah satu sama lain. Seperti dua sisi mata uang logam yang selalu berdampingan. Menciptakan kehidupan yang dinamis dan bergerak secara cepat.
Di sepanjang rute jalan, deretan kendaraan beroda dua maupun roda empat saling berhimpit dan berlomba-lomba mengeluarkan klakson yang paling nyaring, saling berebut ruang di jalan-jalan protokol kota. Namun, di balik riuhnya lalu lintas yang seolah tak berkesudahan, Jakarta tetap menjadi magnet bagi banyak orang. Harapan, ambisi, mimpi menjadi satu dalam aliran manusia yang terus bergerak, menantang peliknya kemacetan dengan semangat yang tak pernah padam.
Pekan ini sudah resmi aku menjadi mahasiswa magang di APEKSI (Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia). Sebagai masyarakat urban yang pergi dan hinggap hingga ke luar kota, suasana macet baik di pagi maupun sore hari sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Jalanan yang penuh sesak, serta cuaca yang tak bisa ditebak. Semuanya menjadi bagian dari rutinitasku.
Di pagi hari, aku harus berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, agar tak terjebak dalam gelombang manusia yang juga berpacu dengan waktu. Sementara itu, di sore hari, perjalanan pulang terasa lebih melelahkan. Lampu-lampu kendaraan memanjang dalam barisan tak berujung, menambah kesan betapa panjangnya jarak antara tempatku bekerja dan rumahku.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang membuatku harus terbiasa dengan ini semua. Tentang mimpi, cita-cita, dan masa depan.
Hari pertama magang di APEKSI menjadi langkah awal yang penuh antusias sekaligus rasa gugup. Gedung kantor yang menjulang di tengah padatnya Jakarta seakan menyambutku dengan keanggunan dan wibawa.
Di lobi, aku disambut hangat oleh staf yang kemudian mengarahkanku ke ruangan tempat para pemagang berkumpul.
Di batch 7 ini, ada enam pemagang dari berbagai universitas. Ada Hana dari Politeknik Negeri Jakarta, Argy dari Universitas Paramadina. Kemudian Andita dari Universitas Negeri Sebelas Maret, Tia dari Universitas Brawijaya, juga Ian dari Politeknik STIA LAN Jakarta. Dan juga aku, Ikrimatul Fu’adah Adyan dari Universitas Negeri Jakarta.
Perkenalan singkat kami diwarnai tawa dan cerita kecil, membangun keakraban yang cepat menghilangkan rasa canggung. Meski berbeda latar belakang, kami punya tujuan untuk menggali pengalaman dan ilmu sebanyak mungkin selama magang ini.
Setelah itu, kami diajak untuk mengikuti sesi Kick Off Internship, kami diajak mengenal lebih dalam tentang asosiasi ini mulai dari tujuan, peran, hingga berbagai program yang dijalankan.
Tak hanya itu, kami juga diperkenalkan pada struktur kerja di APEKSI yang mencakup berbagai bidang, seperti Pembangunan Berkelanjutan, Advokasi Kebijakan, Kemitraan dan Kelembagaan, Penguatan Kapasitas, Komunikasi Strategis, serta Pengelolaan Pengetahuan.
Acara Kick Off Internship tidak hanya berisi orientasi formal, tapi juga sesi permainan seru yang melibatkan pemagang, staf, dan manajer. Kami diminta membentuk kelompok beranggotakan empat orang dan mengurutkan diri berdasarkan tanggal dan bulan lahir tanpa boleh berbicara, hanya menggunakan isyarat tangan. Permainan ini berhasil mencairkan suasana sekaligus mempererat kebersamaan selama masa magang.
Di tengah kemacetan dan hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah berhenti, aku menemukan bahwa setiap tantangan di kota ini sebenarnya menyimpan pelajaran berharga. Magang di APEKSI membuka mataku tentang kompleksitas dan dinamika pengelolaan kota-kota di Indonesia, sekaligus menguatkan tekadku untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan perubahan nyata. Dengan semangat dan harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik selalu menjadi bahan bakar yang menyala dalam diriku. Jakarta dengan segala riuhnya bukan hanya tempat aku melewati hari, tapi juga panggung awal bagi mimpi-mimpi besar yang ingin kugapai.
Artikel oleh:
Ikrimatul Fu’adah Adyan
#APEKSInternship Batch 7
