
Aksi cepat tanggap dan kolaborasi lintas batas menjadi kunci dalam penanganan bencana alam. Di balik upaya tersebut, keterlibatan aktif orang muda memainkan peran krusial, seperti yang terlihat dalam misi bantuan bencana yang digagas oleh APEKSI ke wilayah terdampak di Sumatra.
Kolaborasi Dimulai dari Jakarta
Pada 5 Desember 2025, tim bantuan bertolak dari Jakarta menuju Medan dengan membawa dua unit paket perangkat komunikasi internet satelit dan generator surya. Setibanya di Bandara Kualanamu, koordinasi langsung dilakukan dengan Tim Binjai dan Tim Langsa. Komitmen anak muda terlihat jelas ketika satu unit perangkat komunikasi dititipkan kepada Fahmi, seorang pemuda Langsa yang berprofesi sebagai travel antar kota, untuk diteruskan ke Pemerintah Kota Langsa.
Pusat Logistik di Kota Binjai
Di Kota Binjai, tim langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Binjai, YCC Binjai, Genre Binjai dan Komunitas Kepemudaan, menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan. Keesokan harinya (6 Desember), proses pengemasan bantuan dilakukan di Kantor Dispora Kota Binjai.
Setelah pengemasan, empat kendaraan mengangkut logistik melalui jalan Lintas Sumatera menuju dua titik krusial di Aceh Tamiang. Perjalanan yang menantang melewati area terdampak banjir dan longsor tidak menyurutkan semangat.
Menembus Isolasi di Kampung Durian
Bantuan pertama tiba di posko Desa Kota Lintang Bawah yang terdampak besar karena tepat di pinggir aliran sungai Tamiang sekitar pukul 16.00 WIB. Namun, tantangan terberat menanti di titik kedua, Desa Kampung Durian, yang baru dua hari terbebas dari isolasi total akibat putusnya akses jalan akibat banjir dan lumpur tebal. Warga berbagi kisah memilukan tentang masa-masa sulit tanpa bantuan, bahkan harus mengendapkan lumpur untuk mendapatkan air minum.
Diskusi dengan warga mengenai peminjaman perangkat komunikasi satelit internet menunjukkan semangat adaptasi. Meskipun instalasi perangkat Starlink di tempat Kepala Desa terkendala teknis, tim meninggalkan Power Station dan Solar Panel sebagai sumber penerangan darurat.
Perangkat komunikasi satelit tersebut akhirnya berhasil diaktifkan dan berfungsi dengan baik pada Minggu, 7 Desember 2025. Perangkat ini kemudian diserahkan kepada Tim Binjai untuk dimanfaatkan oleh warga Desa Kampung Durian dan dapat digunakan warga pada 11 Desember 2025 untuk membuka jendela komunikasi vital bagi desa yang terisolasi.
Komitmen Berlanjut
Misi ditutup pada Senin (15 Desember), dengan melaporkan hasil kegiatan bantuan dan ketelibatan YCC Binjai dn Medan kepada Bapak Sofyan, Asisten Pemerintah Kota Medan, dan lanjut berdiskusi dengan YCC 2025 Medan.
Kisah ini membuktikan bahwa orang muda bukan sekadar penerima informasi, melainkan agen perubahan yang tangguh, mampu berkolaborasi, dan membawa solusi nyata—bahkan teknologi canggih—ke lokasi bencana paling terpencil, menjadi sinyal harapan di tengah kesulitan.
Ucapan Terima kasih untuk kolaborasi Aksi Bantuan Kemanusiaan kepada: Pemerintah Kota Binjai, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Binjai, YCC Binjai dan Medan, Genre dan Komunitas Kepemudaan lainnya.
Oleh:
Devy Munir
Manajer Komunikasi Strategis
Afrida Dwi Maulidayati, Ana Lestarina Br. Sembiring, Aulia Faradiba, Azizi Syafila Harahap, Damai Jaya Christmas Hura, Diva Aidilla Fitri, Dwi Maulidayati, Edoh Prastya, Ichwanul Ramadhan Siregar, Misgianto, Muhammad Fikri Mahdi Anwar, Muhammad Hashari Husaini, Muhammad Yudi Guntara, Nafa Sabila, Nayla Putri Aliska, Nizamuddin Zein Siregar, Nurul Syaqila, Putri Syahrani Lubis, Rafie Hadwan Kusuma Ginting, Rudi Agustoni dan Nura Amalia.
